Lonjakan permintaan jagung di pasar global, yang dipicu oleh pertumbuhan penduduk, peningkatan konsumsi pangan, dan meluasnya penggunaan jagung dalam industri—misalnya untuk produksi minyak jagung—membuka peluang emas bagi petani kecil dan koperasi, termasuk di Indonesia. Dengan kebutuhan produsen global yang mencapai lebih dari 100.000 MT per bulan, tren pasar ini mendorong para pelaku usaha pertanian untuk berinovasi melalui penerapan teknologi modern, pengembangan benih unggul yang sesuai dengan kondisi lokal, serta pembentukan kemitraan strategis guna mengoptimalkan peran mereka dalam rantai pasokan global.
Pertanian telah menjadi tulang punggung ekonomi bagi jutaan orang di negara berkembang. Namun, petani skala kecil sering kali menghadapi kendala serius, mulai dari keterbatasan akses teknologi, ketidakstabilan iklim, hingga keterasingan dari pasar. Di tengah tantangan tersebut, kemitraan inovatif yang terjalin antara pemerintah, lembaga riset, LSM, dan sektor swasta telah menghasilkan transformasi signifikan. Dengan menelusuri berbagai kisah sukses dari Asia Tenggara, Afrika, dan daerah lain, tulisan ini menyajikan model-model praktis yang mengombinasikan riset mutakhir dengan kerangka kolaboratif guna meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, dan keadilan. Di era krisis iklim dan pertumbuhan populasi yang pesat, pengembangan kemitraan semacam ini tidak hanya menguntungkan, tetapi juga sangat mendesak.
Kamboja saat ini menduduki peringkat ke-10 sebagai salah satu produsen beras terbesar di dunia, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor, menurut Federasi Beras Kamboja. Pada tahun 2022 saja, negara ini berhasil mengekspor sekitar 630.000 ton beras giling, dengan pendapatan lebih dari $400 juta. Pencapaian luar biasa ini adalah hasil dari kebijakan strategis yang dijalankan di bawah kepemimpinan visioner mantan Perdana Menteri Samdech Hun Sen, yang menjadikan pengembangan sektor pertanian sebagai pilar utama pertumbuhan nasional. Bagi negara-negara Afrika yang menghadapi tantangan ganda berupa ketahanan pangan dan ketergantungan besar pada impor beras—dengan total nilai impor tahunan mencapai lebih dari $5 miliar di Afrika Sub-Sahara—kesuksesan Kamboja dapat menjadi peta jalan yang berharga.